Daerah

Razia Kelab Malam PIK, Band Disetop Mendadak, 6 Positif

Razia Kelab Malam PIK, Band Disetop Mendadak, 6 Positif
razia kelab malam PIK

Razia kelab malam PIK oleh Bareskrim Polri dan BNN pada Minggu (18/10/2026) dini hari membuat musik dan band mendadak berhenti. Enam pengunjung klaster PIK positif narkotika dan kini menjalani asesmen BNN RI.

Dentuman musik di salah satu kelab malam kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, mendadak berhenti. Tim gabungan masuk dan langsung mengambil alih situasi di dalam ruangan. Band yang sedang tampil pun diminta menyetop lagu untuk sementara waktu.

Operasi ini digelar Bareskrim Polri bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Minggu (18/10/2026) dini hari. Sasarannya jelas, yakni menekan peredaran narkotika di tempat hiburan malam. Tim juga menggeledah badan pengunjung dan titik yang diduga menjadi tempat menyimpan narkotika.

Petugas Minta Maaf Sebelum Periksa Pengunjung

Begitu tiba, petugas menyapa para tamu dengan nada sopan. Mereka meminta pengunjung membantu mempercepat pengecekan agar suasana bisa kembali normal. Salah satu petugas menyampaikan imbauan itu langsung di lokasi.

“Baik, selamat malam. Mohon maaf mengganggu waktunya. Kami dari Bareskrim Mabes Polri dan BNN Republik Indonesia. Kami sedang melakukan kegiatan penertiban narkotika,” ucap petugas di lokasi.

Setelah itu, petugas memeriksa pengunjung satu per satu. Pemeriksaan dimulai dari lantai dasar, lalu merambat ke sejumlah ruangan di lantai atas.

Cartridge di Toilet dan Lima Orang di Lantai Tiga

Kejutan datang saat petugas menyisir salah satu ruangan di lantai tiga. Di sana mereka menemukan lima orang, terdiri dari tiga pria dan dua wanita. Petugas lalu mencurigai ada cartridge yang dibuang pengunjung ke dalam toilet.

Kecurigaan itu mendorong petugas melakukan tes urine kepada seluruh pengunjung di ruangan tersebut. Hasilnya, mereka diduga positif etomidate, zat yang masuk narkotika golongan dua. Petugas kemudian membawa mereka yang positif untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Razia Kelab Malam PIK Dibagi Jadi Dua Klaster

Usai operasi, Kanit Subdit 3 Dittipidnarkoba Bareskrim Polri AKBP Ivan Adhitira menjelaskan pembagian tugas timnya. Petugas bergerak di dua klaster, yaitu PIK, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Total sembilan orang diamankan dari kedua wilayah itu.

“Hasil yang kami dapatkan, yaitu ditemukan ada enam orang dari klaster PIK yang positif menggunakan narkotika,” kata Ivan di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Minggu (18/10/2026).

Dari klaster Jakarta Timur, tiga orang lain juga dinyatakan positif. Ivan menyebut seluruh sembilan orang itu positif etomidate dan amfetamin atau sabu. Operasi serentak ini melibatkan Bareskrim Polri, BNN RI, Divpropam Polri, dan Korsabhara Baharkam Polri.

Sembilan orang itu kini berada dalam pemeriksaan lanjutan. Aparat belum menyimpulkan peran masing-masing sebelum asesmen BNN rampung.

Rehabilitasi Menanti Jika Hanya Pengguna

Kini BNN RI melakukan asesmen untuk menentukan peran para pengunjung tersebut. Petugas ingin tahu apakah mereka sebatas pengguna atau terafiliasi dengan jaringan peredaran narkotika.

Jalur pemulihan menunggu bila hasilnya menunjukkan mereka hanya pengguna. “Apabila hasil asesmen dari BNN RI yang bersangkutan adalah pengguna, maka kita wajib untuk melakukan rehabilitasi untuk mengobati mereka yang positif tersebut,” tegas Ivan.

Barang Bukti Vape dan Tantangan Melacak Asal Narkotika

Petugas menyita vape atau cartridge vape yang diduga berisi cairan etomidate. Laboratorium BNN RI kini menguji barang bukti tersebut.

Untuk pengunjung yang positif amfetamin, petugas tidak menemukan sabu secara fisik di lokasi. Ivan menyebut tantangan utama razia tempat hiburan malam adalah melacak asal barang secara langsung. Pasalnya, pengunjung mungkin membawa narkotika dari luar.

Meski begitu, seluruh rangkaian operasi berjalan lancar. Tidak ada perlawanan maupun hambatan selama petugas bekerja.

Razia kelab malam PIK ini menjadi pengingat bahwa pengawasan tempat hiburan malam masih berjalan. Bagi warga Jakarta Utara dan sekitarnya, kabar ini menegaskan bahwa aparat terus memantau tempat hiburan malam di wilayah mereka. Kini publik menunggu hasil asesmen BNN RI dan uji laboratorium barang bukti. Dari sana akan terlihat, apakah para pengunjung itu menjalani rehabilitasi atau terseret jaringan peredaran.