Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Rizki Yuda, menyebut kabut tipis dan penurunan kualitas udara di Makassar, Sulawesi Selatan, dalam beberapa hari terakhir dipicu asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Merauke, Papua Selatan. Pemodelan BMKG menunjukkan asap itu terbawa angin timur hingga Sulawesi Selatan.
Menurut Rizki, penyebab kabut tipis dan memburuknya kualitas udara di Makassar adalah asap karhutla dari Merauke. Pernyataan itu disampaikan pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar.
Lewat layar pemantau, Rizki memperlihatkan pemodelan pergerakan polutan. Asap dari Merauke bergerak ke barat mengikuti angin timur, lalu sampai ke Sulawesi Selatan, termasuk Makassar.
Naik-turun dari sedang ke tidak sehat
Menurut Rizki, kualitas udara di Sulawesi Selatan masih berfluktuasi, dari kategori sedang hingga tidak sehat. Pada 12 Oktober 2026, angkanya sempat naik ke tidak sehat pada pagi hari, lalu turun lagi ke kategori sedang.
Puncaknya terjadi sehari sebelumnya. Konsentrasi polutan di Makassar sempat melewati 100 mikrogram per meter kubik, masuk kategori tidak sehat, pada Minggu (11/10/2026).
Rizki menyebut kondisi buruk itu sudah berlangsung beberapa hari. BMKG mengingatkan warga agar mewaspadai pagi dan malam hari, saat polusi rawan melonjak.
Bukan hanya kiriman dari timur
Selain itu, sumber asap tidak datang dari Papua saja. Titik karhutla lokal di Sulawesi Selatan ikut memperparah keadaan, antara lain di Pangkep, Bantaeng, Enrekang, Toraja Utara, dan Luwu Utara.
Kemarau panjang membuat api sulit dipadamkan. Cuaca cerah dan minim hujan, kata Rizki, mempersulit upaya pemadaman.
Soal kapan kondisi ini berakhir, BMKG menyebut pemodelan bisa memperkirakannya. Namun hasilnya bergantung pada ada tidaknya sumber kebakaran.
"Kalau misalkan sumber kebakarannya itu sudah tidak ada, sudah padam, maka potensi untuk adanya penurunan kualitas udara itu juga semakin hilang," kata Rizki Yuda, prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar.