Papua Barat

Pemkab Teluk Wondama Latih Warga Anyam Rotan dan Komputer

Pemkab Teluk Wondama Latih Warga Anyam Rotan dan Komputer
pelatihan rotan komputer Teluk Wondama

Pemkab Teluk Wondama membekali warga dengan pelatihan kerajinan rotan dan komputer selama enam hari. Program ini diarahkan untuk membuka peluang usaha serta menyiapkan generasi muda memasuki dunia kerja digital.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Teluk Wondama, Papua Barat, menggelar pelatihan kerajinan rotan dan pengoperasian komputer bagi masyarakat. Kegiatan ini bertujuan membuka peluang usaha, menambah keterampilan kerja, serta mendorong pemanfaatan kekayaan alam secara produktif.

Wakil Bupati Teluk Wondama Anthonius Alex Marini menyampaikan keterangan tertulis di Manokwari, Sabtu (24/10). Ia menilai dua keterampilan tersebut saling melengkapi: rotan menghubungkan warga dengan potensi alam, sedangkan komputer menyiapkan mereka menghadapi perkembangan teknologi.

Peluang Ekonomi dari Rotan

Pelatihan penganyaman rotan menyasar orang dewasa. Peserta diajak mengolah bahan baku alam menjadi produk kerajinan yang memiliki nilai jual lebih tinggi, mulai dari benda rumah tangga hingga produk kreatif yang dapat dipasarkan ke luar kampung.

Marini menegaskan rotan bukan sekadar bahan baku hutan. Ia ingin masyarakat melihat rotan sebagai sumber pendapatan keluarga yang dapat dikembangkan menjadi usaha rumahan.

“Kerajinan rotan dapat menjadi peluang usaha bagi masyarakat, membuka lapangan kerja dan mendukung pertumbuhan ekonomi keluarga,” kata Marini.

Menurutnya, keterampilan ini penting karena Teluk Wondama memiliki kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Dengan teknik penganyaman yang lebih baik, produk warga diharapkan memiliki kualitas dan daya saing yang lebih kuat.

Pemerintah kabupaten juga tidak ingin pelatihan berhenti ketika kegiatan selesai. Marini meminta instansi teknis memberikan pendampingan lanjutan agar peserta benar-benar mampu merintis usaha secara mandiri.

Generasi Muda dan Keterampilan Digital

Sementara itu, pelatihan komputer diarahkan kepada generasi muda Teluk Wondama. Peserta dilatih agar mampu bekerja lebih efektif, mengakses informasi, serta menguasai keterampilan dasar yang dibutuhkan dunia kerja pada era digital.

Marini berharap anak muda Wondama tidak hanya mengenal komputer, tetapi juga mampu menggunakannya untuk belajar, bekerja, dan mencari peluang usaha. Ia menilai kemampuan digital kini menjadi kebutuhan dasar, bukan lagi keterampilan tambahan.

“Harapan saya dengan pelatihan ini rotan itu bisa dibuat menjadi kerajinan yang bagus, dan generasi muda Wondama juga bisa menguasai komputer supaya bekerja lebih efektif,” ujarnya.

Kehadiran pelatihan ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperluas akses informasi. Mereka dapat belajar mencari peluang kerja, memasarkan produk secara daring, serta mengembangkan ide usaha berbasis teknologi.

Enam Hari Bersama Instruktur Solo

Kepala UPTD Balai Pelatihan Kerja (BLK) Teluk Wondama Ottow Geisler Marani menjelaskan kedua pelatihan dijadwalkan berlangsung selama enam hari. Kegiatan menghadirkan instruktur dari Solo, Jawa Tengah.

Durasi enam hari dimaksudkan agar peserta memperoleh pengalaman praktis, bukan hanya teori. Peserta rotan dilatih teknik pengolahan dan penganyaman, sedangkan peserta komputer mendapatkan pembelajaran keterampilan yang relevan dengan kebutuhan kerja.

“Para peserta dapat memperoleh pengalaman praktis untuk meningkatkan kompetensi diri agar siap masuk dunia kerja maupun usaha mandiri,” kata Marani.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membentuk sumber daya manusia Teluk Wondama yang terampil, kreatif, dan produktif. Targetnya, warga mampu bersaing baik di dunia usaha maupun dunia kerja.

BLK Teluk Wondama sendiri telah lama menjadi instrumen pembinaan tenaga kerja lokal. Pemerintah kabupaten sebelumnya berupaya mengoptimalkan BLK Maimari untuk mencetak tenaga kerja yang terampil, inovatif, dan berdaya saing.

Pemasaran Jadi Tantangan Berikutnya

Meski pelatihan menjadi langkah awal, Marini mengakui ada tantangan penting setelah peserta menguasai keterampilan: siapa yang akan membeli produk mereka. Ia menyoroti perlunya strategi pemasaran agar hasil pelatihan tidak berhenti di tangan peserta.

“Kita sering buat pelatihan tetapi nanti hasilnya tidak ada yang beli,” ujar dia.

Karena itu, Pemkab Teluk Wondama melalui instansi teknis akan berkoordinasi dengan DPRK Teluk Wondama. Pembahasan tersebut difokuskan pada strategi pemasaran hasil kerajinan agar warga memperoleh manfaat nyata melalui peningkatan pendapatan.

Langkah ini penting karena pelatihan hanya akan bermakna bila produk peserta dapat dipasarkan. Dukungan akses pasar, promosi, dan jaringan pembeli menjadi faktor penentu keberlangsungan usaha kerajinan rotan.

Dengan menggabungkan keterampilan tradisional dan kemampuan digital, Pemkab Teluk Wondama berupaya menciptakan peluang ekonomi yang lebih luas. Jika pendampingan dan pemasaran berjalan konsisten, pelatihan ini berpotensi menjadi titik awal tumbuhnya usaha kreatif berbasis rotan di daerah tersebut.