Papua Barat

Operasi Modifikasi Cuaca Papua Barat Molor, Terhadang Asap

Operasi Modifikasi Cuaca Papua Barat Molor, Terhadang Asap
operasi modifikasi cuaca Papua Barat

Operasi modifikasi cuaca Papua Barat yang dijadwalkan 11–15 Oktober 2026 molor karena pesawat pembawa garam tak bisa mendarat di Manokwari. Kabut asap karhutla memangkas jarak pandang, padahal Teluk Bintuni, Fakfak, dan Kaimana sedang menunggu hujan buatan.

Langit Manokwari sedang tidak bersahabat bagi pesawat logistik. Kabut asap membatasi jarak pandang di sekitar Bandara Rendani sehingga pesawat urung mendarat. Dampaknya merembet ke rencana hujan buatan di tiga kabupaten.

Operasi Modifikasi Cuaca Papua Barat Sasar Tiga Kabupaten

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan Teluk Bintuni, Fakfak, dan Kaimana sebagai wilayah prioritas operasi modifikasi cuaca. Ketiganya punya sebaran titik panas dan kasus karhutla yang relatif tinggi.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Kelas II Rendani Manokwari, Cipta Utama, menjelaskan tujuan operasi itu di Manokwari, Selasa, 13 Oktober 2026. Menurut dia, hujan buatan mendongkrak peluang turunnya hujan sehingga titik panas dan kabut asap bisa surut.

“Titik panas di Fakfak, Bintuni, dan Kaimana lebih banyak. Operasi modifikasi cuaca bertujuan mengurangi potensi titik panas maupun kabut asap,” ujar Cipta.

Rencana ini lahir dari kerja sama BMKG dan Pemerintah Provinsi Papua Barat. Tim lebih dulu memantau pertumbuhan awan hujan, lalu menetapkan jadwal pelaksanaan pada 11–15 Oktober 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Kelas II Rendani Manokwari, Cipta Utama
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Kelas II Rendani Manokwari, Cipta Utama

Pesawat Garam Tertahan Kabut Asap di Rendani

Hambatan justru datang dari udara. Pesawat yang mengangkut garam untuk penyemaian awan belum bisa mendarat di Bandara Rendani. Kabut asap karhutla dari sejumlah wilayah, termasuk Nabire, membuat jarak pandang terbatas.

“Pesawat yang bawa logistik garam untuk operasi modifikasi cuaca, belum bisa mendarat karena kabut asap,” kata Cipta.

Situasinya terasa getir. Asap yang hendak diredam lewat hujan buatan justru menghalangi bahan penyemai tiba di lokasi. Penundaan itu membuat jadwal 11–15 Oktober ikut bergeser.

Titik Panas Menurun, Asap Tetap Mampir ke Manokwari

Pemantauan BMKG per 12 Oktober 2026 mencatat 59 titik panas di Papua Barat. Sebanyak 58 titik berstatus tingkat kepercayaan sedang, sedangkan satu titik masuk kategori tinggi.

Jumlah itu menurun seiring potensi hujan intensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah Papua Barat. Meski begitu, kabut asap masih membekap daerah yang bukan pusat kebakaran.

Manokwari jadi contoh nyata. Cipta menerangkan bahwa wilayah ini tidak mencatat titik api sebanyak daerah lain. Warga tetap merasakan dampaknya, sebab angin membawa asap dari lokasi kebakaran ke daerah sekitar.

Asap kiriman memang tidak mengenal batas kabupaten. Daerah yang sama sekali bukan titik api pun ikut kena getahnya.

Hujan Buatan Akhirnya Mulai Digelar, Warga Menanti Hasil

Kabar baik datang keesokan harinya. Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan menyampaikan Rabu, 14 Oktober 2026, bahwa pesawat pembawa garam sudah mendarat di Rendani pagi itu. Operasi modifikasi cuaca pun mulai berjalan hari itu juga.

Ia menyebut Fakfak, Teluk Bintuni, dan Kaimana tetap jadi prioritas. Operasi juga bisa meluas ke Manokwari dan sekitarnya. Jadwalnya berakhir pada 15 Oktober 2026.

Dominggus menilai modifikasi cuaca jadi solusi efektif setelah pemadaman darat menemui banyak kendala. Personel terbatas, sementara akses menuju lokasi api sulit ditembus.

Ia berharap hujan buatan menekan risiko karhutla dan kabut asap. Asap pekat terbukti mengganggu penerbangan dan mobilitas warga.

Catatan BMKG per 13 Oktober 2026 menunjukkan 73 titik panas di Papua Barat. Angka itu naik dibanding hari sebelumnya. Rinciannya 68 titik tingkat sedang, empat tinggi, dan satu rendah.

Kini perhatian tertuju pada hasil penyemaian awan di Fakfak, Teluk Bintuni, dan Kaimana. Tolok ukur keberhasilan operasi ini ada dua: titik panas menyusut dan kabut asap menipis.

Penyemaian awan hanya bisa jalan bila awan hujan tumbuh dan logistik tiba tepat waktu. Karena itu, koordinasi antara BMKG, pemerintah provinsi, dan pengelola bandara menjadi kunci.

Kisah penundaan ini menunjukkan betapa rumitnya urusan karhutla di Papua Barat. Alam, jarak, dan cuaca saling berkait. Warga kini berharap hujan segera turun, titik panas menyusut, dan udara kembali bersih.