Harga cabai rawit dan telur ayam anjlok hingga 20 persen pada Jumat, 30 Oktober 2026. Penurunan itu terjadi saat pemerintah menyiapkan pengendalian harga pangan menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.
Kenaikan harga pangan kerap menjadi isu yang cepat menyebar karena langsung menyentuh belanja rumah tangga. Namun, data Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Jumat, 30 Oktober 2026, justru mencatat perbaikan pada sejumlah komoditas penting, termasuk aneka cabai dan telur ayam.
Berdasarkan pemantauan harga pangan hari ini, cabai rawit hijau turun paling dalam, yakni 20,65 persen, menjadi Rp63.000 per kilogram dari posisi sebelumnya. Penurunan ini menjadi sinyal awal relaksasi tekanan harga pada komoditas yang sebelumnya sempat melonjak akibat gangguan pasokan.
Cabai rawit merah juga tercatat turun 13,84 persen menjadi Rp83.550 per kilogram. Sementara itu, telur ayam ras turun 13,87 persen menjadi Rp25.450 per kilogram. Angka tersebut menunjukkan perbaikan harga pada dua komoditas yang sangat dekat dengan kebutuhan dapur masyarakat.
Harga Cabai Rawit Masih Fluktuatif
Meski penurunan hari ini cukup besar, harga cabai rawit tetap menjadi komoditas yang perlu diawasi. Komoditas ini sensitif terhadap cuaca, memiliki masa simpan pendek, dan bergantung pada kelancaran distribusi dari daerah produksi ke pasar konsumen.
Sebelumnya, BPS mencatat harga rata-rata cabai rawit nasional masih meningkat 12,41 persen menjadi Rp88.578 per kilogram pada pekan ketiga Oktober 2026. Kenaikan itu terjadi di 269 kabupaten dan kota, atau sekitar 74,72 persen wilayah Indonesia.
Tekanan pasokan juga pernah membuat harga cabai rawit di beberapa daerah mencapai level tinggi. Di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, harga cabai rawit bahkan sempat tercatat Rp200.000 per kilogram. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan harga pangan tidak hanya soal produksi, tetapi juga biaya logistik dan jarak distribusi.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut kekeringan di sejumlah daerah produksi menjadi salah satu pemicu berkurangnya pasokan cabai rawit dan cabai merah. Menurutnya, komoditas ini bukan pangan pokok, tetapi dampaknya terasa kuat pada inflasi karena sering dikonsumsi rumah tangga.
“Terutama dikarenakan kekeringan ya, sehingga beberapa daerah produksi cabai rawit itu kurang,” kata Tito dalam Rapat Koordinasi Keamanan Pangan di Jakarta, Senin, 26 Oktober 2026.
Telur Ayam Mulai Lebih Terjangkau
Penurunan harga telur ayam memberi ruang napas bagi konsumen menjelang akhir tahun. Telur merupakan sumber protein yang banyak dipakai untuk kebutuhan harian, mulai dari masakan rumahan hingga industri kuliner kecil.
Pemerintah menilai harga telur dan daging ayam sebelumnya mengalami ketidaksesuaian antara harga di tingkat produsen dan konsumen. Harga di peternak relatif rendah, tetapi harga jual di pasar tetap tinggi. Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya rantai perantara yang menahan margin petani dan membebani konsumen.
Tito mengatakan pemerintah berencana menertibkan praktik tersebut dengan melibatkan Kabareskrim dan telah memperoleh persetujuan Kapolri. Ia menyebut harga ayam dan telur mulai menurun setelah rencana penertiban itu disampaikan.
“Ada anomali di tingkat produsen itu harganya rendah, di tingkat konsumen tinggi, artinya ada middleman ya, ada middle party di situ,” ujarnya.
Bagi rumah tangga, penurunan telur hingga hampir 14 persen dapat membantu menekan pengeluaran harian. Namun, keberlanjutan penurunan masih bergantung pada stabilitas harga pakan, kesehatan populasi ayam, serta efisiensi distribusi dari peternak hingga pasar.
Arahan Prabowo Jelang Natal dan Tahun Baru
Pemerintah tidak ingin momentum Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 justru diwarnai lonjakan harga pangan. Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, menegaskan arahan Presiden Prabowo Subianto agar harga tetap terkendali selama periode Nataru.
“Prinsipnya Presiden ingin Nataru, Natal dan Tahun Baru itu tidak boleh ada kenaikan harga pangan. Justru yang diharapkan sebenarnya penurunan harga pangan,” ujar Andriko dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2026.
Andriko menambahkan bahwa pengendalian harga harus berjalan bersamaan dengan ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Pemerintah juga memperkuat pengawasan untuk mencegah spekulasi harga, khususnya pada beras yang menyangkut kebutuhan pokok masyarakat luas.
“Jadi harus pastikan stabil harganya, stabil pasokannya. Tidak boleh orang mempermainkan harga beras karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” tegasnya.
Tantangan Menjaga Stabilitas Harga
Penurunan harga cabai rawit dan telur ayam hari ini merupakan kabar baik, tetapi belum tentu menjadi tren permanen. Kementerian Perdagangan memperkirakan cabai merah keriting dan cabai merah besar tetap perlu diwaspadai karena sensitif terhadap cuaca serta memiliki masa simpan singkat.
Permintaan telur dan ayam juga berpotensi meningkat saat Natal dan Tahun Baru. Peningkatan permintaan tersebut dapat menekan harga apabila pasokan tidak segera ditambah atau distribusi menghadapi hambatan.
Pemerintah menyatakan akan mengintensifkan pemantauan harga dan berkoordinasi dengan distributor, produsen, Bulog, BUMN pangan, serta pemerintah daerah. Kelancaran pelabuhan, jalan, gudang, dan pasar menjadi bagian penting dari upaya menjaga pasokan tetap aman.
Untuk beras, pemerintah menugaskan Bulog menyalurkan Cadangan Beras Pemerintah melalui skema Beras SPHP. Langkah ini dimaksudkan menjaga ketersediaan beras dan menahan gejolak harga menjelang akhir tahun.
Dengan penurunan harga cabai rawit dan telur ayam hingga sekitar 20 persen, masyarakat mendapat kelegaan sementara dalam belanja pangan. Namun, pemerintah masih perlu menjaga pasokan, memperbaiki rantai distribusi, dan menindak spekulasi agar penurunan harga tidak hanya bersifat sesaat menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027.