Noken mahasiswa Papua menyita perhatian saat seorang mahasiswa Universitas Trisakti mengangkatnya di depan Staf Khusus Mensesneg, Binbin Firman Tresnadi, dalam aksi unjuk rasa di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Ia menuntut jaminan layanan kesehatan gratis bagi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua, Kalimantan, dan pulau lain.
Mahasiswa asal Papua itu menunjukkan noken langsung di hadapan Binbin. Ia menjadikan tas rajut tradisional tersebut sebagai pembuka rangkaian tuntutannya. Aksi berlangsung di Jakarta dan mempertemukan massa mahasiswa dengan perwakilan pemerintah pusat.
Noken Mahasiswa Papua Bukan Sekadar Tas
Bagi sang mahasiswa, noken punya makna jauh lebih dalam daripada fungsi sehari-hari. Ia menyebutnya simbol kehidupan. Para ibu di Papua memakainya untuk menggendong anak sejak hari pertama lahir.
"Pak, noken ini dibuat oleh ibu-ibu di Papua. Noken ini memelihara satu kehidupan. Ketika anak Papua lahir, mereka menggendong anak Papua itu di dalam noken ini, Pak," ujarnya di hadapan Binbin.
Pandangan itu sejalan dengan tradisi yang hidup di tanah Papua. Perempuan Papua menganyam noken dengan tangan, lalu memakainya untuk membawa bayi, hasil kebun, hingga hasil tangkapan. UNESCO bahkan mengakui noken sebagai warisan budaya takbenda sejak 2012. Pengakuan itu menegaskan nilai noken bagi identitas masyarakat setempat.
Karena itu, mahasiswa tersebut memilih noken sebagai alat bicara. Benda itu mewakili suara para ibu yang selama ini merawat generasi Papua. Noken juga mengingatkan hubungan warga dengan hutan, tempat bahan anyamannya berasal.
Tuntutan Layanan Kesehatan Gratis bagi Korban Karhutla
Setelah menjelaskan makna noken, mahasiswa tersebut menautkannya dengan alam. Menurut dia, hutan dan tanah menjadi sumber kehidupan orang Papua. Karena itu, ia mempertanyakan nasib warga yang terdampak karhutla di Papua, Kalimantan, dan pulau-pulau lain.
"Apakah Bapak bisa memberikan jaminan kepada saya dan teman-teman mahasiswa? Apakah bisa memberikan layanan kesehatan gratis bagi saudara-saudara kami yang korban Karhutla?" tanyanya.
Pertanyaan itu menyentuh persoalan nyata di lapangan. Kabut asap dari kebakaran lahan kerap memicu gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia. Warga di sekitar lokasi kebakaran juga sering kehilangan kebun dan sumber penghasilan.
Dalam kondisi seperti itu, jaminan layanan kesehatan gratis bukan sekadar permintaan simbolis. Warga membutuhkan pemeriksaan, obat, dan perawatan tanpa terbebani biaya. Kebutuhan itu makin berat bagi keluarga di pedalaman yang jauh dari fasilitas kesehatan.
Salaman sebagai Bukti Keseriusan Jaminan
Mahasiswa itu menegaskan bahwa jaminan tersebut menjadi hal utama yang ingin ia pastikan. Ia tidak berhenti pada pertanyaan. Ia menantang Binbin untuk bersalaman sebagai tanda kesanggupan.
"Kalau Bapak berani, salaman sama saya, Pak!"
Tantangan itu menunjukkan betapa tegas sikap sang mahasiswa. Salaman dalam budaya yang menjunjung kehormatan berarti janji yang dipegang bersama. Hingga artikel ini ditulis, redaksi belum menemukan keterangan resmi mengenai jawaban Binbin atas tantangan tersebut.
Cara Anak Muda Papua Menyuarakan Aspirasi
Aksi di Jakarta ini memperlihatkan cara anak muda Papua menyampaikan aspirasi lewat simbol budaya. Mereka tidak hanya membawa data atau angka, tetapi juga benda yang melekat pada kehidupan keluarga. Cara itu membuat pesan terasa lebih personal dan mudah diingat publik.
Isu karhutla sendiri menuntut penanganan lintas sektor, mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga pemulihan kesehatan korban. Pemerintah pusat dan daerah perlu berbagi peran secara jelas agar warga terdampak tidak menunggu terlalu lama. Warga Papua pun berharap janji yang terucap di forum seperti ini tidak berhenti sebagai kata-kata.
Laporan ini disusun berdasarkan pernyataan mahasiswa dalam aksi unjuk rasa di Jakarta, catatan UNESCO tentang noken, serta penelusuran redaksi Faktapapuabarat.id atas isu karhutla.
Noken yang diangkat di Jakarta itu membawa pesan sederhana namun kuat. Alam, kehidupan, dan kesehatan warga saling terkait. Kini publik menunggu apakah pemerintah menjawab tantangan sang mahasiswa dengan langkah nyata bagi korban karhutla.