Penghitungan suara pemilu Israel 27 Oktober 2026 masih berlangsung Rabu 28 Oktober. Blok sayap kanan Benjamin Netanyahu unggul tipis atas oposisi Gadi Eisenkot, namun keduanya gagal raih mayoritas 61 kursi Knesset.
Komite Pemilu Pusat Israel terus menghitung suara setelah partisipasi pemilih mencapai 77,7 persen, angka tertinggi dalam lebih dari dua dekade. Dengan sekitar 70 persen suara telah dihitung, media Israel memproyeksikan blok Netanyahu memperoleh 54 kursi. Blok oposisi di bawah mantan Kepala Staf IDF Gadi Eisenkot diperkirakan mendapat 47 kursi, sementara partai-partai Arab meraih 19 kursi.
Hasil sementara ini menandai kemunduran bagi koalisi Netanyahu yang sebelumnya menguasai 64 kursi. Meski demikian, oposisi juga gagal mencapai ambang batas mayoritas. Netanyahu tetap menjabat sebagai perdana menteri caretaker selama negosiasi koalisi yang diperkirakan berlangsung lama.
Hasil Sementara dan Klaim Kedua Kubu
Partai Likud pimpinan Netanyahu muncul sebagai partai tunggal terbesar dengan proyeksi 27 hingga 28 kursi. Partai Yashar yang dipimpin Eisenkot berada di posisi kedua dengan sekitar 20 hingga 21 kursi. Partai-partai ultra-Ortodoks dan sayap kanan ekstrem seperti Shas, United Torah Judaism, Otzma Yehudit, dan Religious Zionism menyumbang dukungan signifikan bagi blok Netanyahu.
Menurut laporan Reuters, Netanyahu menyatakan kepada pendukungnya di Yerusalem bahwa hasil itu menunjukkan dukungan jelas dari pemilih Yahudi Israel. Ia menyerukan pembentukan pemerintahan sayap kanan yang kuat. Di sisi lain, Eisenkot di Tel Aviv menegaskan bahwa publik telah memilih perubahan. “Publik Israel memberikan suara tidak percaya kepada Netanyahu sebagai perdana menteri. Seorang pemimpin yang layak akan menerima hasil itu dan mengumumkan pengunduran dirinya hari ini,” ujar Eisenkot di hadapan pendukungnya.
Exit poll awal dari saluran televisi utama Israel sempat menunjukkan kedua blok hampir berimbang atau oposisi sedikit unggul. Namun penghitungan resmi secara bertahap membalikkan tren tersebut. Data dari Komite Pemilu Pusat yang dikutip Times of Israel dan media lokal lainnya menunjukkan blok Netanyahu terus memperbesar keunggulan seiring bertambahnya suara yang dihitung.
Tantangan Pembentukan Koalisi
Baik Netanyahu maupun Eisenkot menghadapi jalan sulit menuju mayoritas. Blok oposisi yang terdiri dari partai tengah-kanan hingga kiri telah berulang kali menyatakan menolak bekerja sama dengan partai Arab dalam pemerintahan. Eisenkot sendiri menekankan keinginan membentuk pemerintahan Zionis tanpa bergantung pada partai Arab.
Partai Arab, termasuk Joint List dan Ra’am, mencatat lonjakan dukungan signifikan berkat tingginya partisipasi pemilih Arab. Mereka berpotensi menjadi penentu, namun jalur itu tertutup bagi kedua kandidat utama. Jika negosiasi gagal, Israel bisa kembali ke pemilihan umum dalam waktu dekat, sesuatu yang Eisenkot katakan ingin dihindari mengingat tingginya partisipasi kali ini.
Pemilu ini merupakan yang pertama sejak serangan Hamas 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan memicu perang berkepanjangan di Gaza. Netanyahu memimpin respons militer tersebut, sementara Eisenkot, yang sempat bergabung dalam kabinet perang darurat, mengkritik pengelolaan keamanan dan polarisasi politik di bawah kepemimpinan Netanyahu.
Konteks bagi Pembaca Indonesia dan Dampak Regional
Hasil pemilu Israel selalu mendapat perhatian di Indonesia karena keterkaitan isu Palestina dan stabilitas Timur Tengah. Deadlock politik di Yerusalem berpotensi memperpanjang ketidakpastian kebijakan terhadap Gaza, Lebanon, dan Iran. Netanyahu selama ini mempertahankan pendekatan keras terhadap Hamas dan Hizbullah, sementara Eisenkot menjanjikan tanggung jawab lebih besar atas kegagalan intelijen 7 Oktober serta reformasi keamanan.
Penghitungan suara lengkap diperkirakan selesai dalam beberapa hari. Suara “amplop ganda” dari tentara IDF, diplomat, dan pemilih di luar negeri biasanya dihitung belakangan dan bisa mengubah proyeksi akhir. Hingga hasil resmi diumumkan, Netanyahu tetap memegang kendali pemerintahan caretaker.
Analis politik di Tel Aviv mencatat bahwa dukungan solid Netanyahu di kalangan pemilih Yahudi menjadi faktor penentu. Meskipun kehilangan mayoritas koalisi, ia berhasil mencegah oposisi meraih kemenangan telak. Eisenkot, yang baru aktif di politik beberapa tahun terakhir setelah karier militer panjang, harus membuktikan kemampuan membangun aliansi di luar basis oposisi tradisional.
Proses negosiasi koalisi di Israel kerap memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Sejarah menunjukkan bahwa situasi serupa pernah menghasilkan pemerintahan sementara berkepanjangan atau pemilihan ulang. Kali ini, dengan partisipasi tertinggi sejak 1999, tekanan publik terhadap para pemimpin untuk segera menghasilkan stabilitas pemerintahan semakin besar.
Laporan dari Channel 12, Kan 11, dan Channel 13 secara konsisten memperlihatkan pola yang sama: blok Netanyahu unggul tipis namun tetap di bawah 61 kursi. Media Israel menekankan bahwa hasil akhir masih bisa bergeser, terutama setelah penghitungan suara tentara selesai. Hingga saat ini, kedua kubu terus mengklaim mandat untuk membentuk pemerintahan berikutnya.
Bagi kawasan, hasil ini memperpanjang ketidakpastian di tengah ketegangan regional yang masih tinggi. Israel tetap menghadapi ancaman dari berbagai front, sementara proses politik internal menjadi fokus utama. Netanyahu dan Eisenkot sama-sama menyatakan siap memimpin, namun angka di parlemen menunjukkan bahwa jalan menuju kekuasaan penuh masih panjang dan penuh kompromi.