Tekno

Kabel Laut Singapura Lewat RI, Meutya Hafid: 80% Ikut Lumpuh

Kabel Laut Singapura Lewat RI, Meutya Hafid: 80% Ikut Lumpuh
kabel laut Singapura

Menkomdigi Meutya Hafid menegaskan kabel laut Singapura sebagian besar melintasi perairan Indonesia, sehingga 80 persen konektivitas negara itu ikut terancam. Ia merespons unggahan mantan anggota parlemen Singapura Calvin Cheng melalui Instagram pada Selasa (27/10/2026).

Kabel Laut Singapura Lewat Perairan Indonesia, Ini Maksud Meutya

Polemik ini bermula pada Minggu (25/10/2026). Calvin Cheng, mantan anggota parlemen Singapura, mengunggah infografis berjudul Indonesia's Internet Dependence on Singapore di akun X @calvinelcheng. Infografis itu mengklaim sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia melewati Singapura. Pusat data, layanan komputasi awan (cloud), dan kabel bawah laut menjadi dasar klaim tersebut. Koran Jakarta menyebut infrastruktur itu menjadikan Singapura gerbang utama konektivitas global bagi Indonesia.

Meutya menjawab dari sisi geografi. Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) adalah kabel di dasar laut pembawa data antarnegara. Sebagian besar jalur yang mendarat di Singapura melewati perairan Indonesia. Menurut Meutya, "Jika terpotong atau dipotong, 80% kapasitas konektivitas Singapura juga terancam lumpuh." Ia menulis pernyataan itu di akun Instagram pribadinya pada Selasa (27/10/2026).

CNN Indonesia mencatat Meutya juga menyoroti besarnya pasar digital Indonesia. Dalam pandangannya, pasar itu berperan penting bagi investasi perusahaan teknologi global di Singapura.

Angka Kunci: Indonesia Bergantung 90 Persen, Singapura Terancam 80 Persen

Meutya tidak menutup mata terhadap ketergantungan itu. Ia mengakui, "Sejujurnya, trafik kita 90% tergantung ke Singapura." Mediakompeten.co.id mencatat pengakuan itu dalam keterangannya di Jakarta.

Berikut angka yang beredar dalam polemik ini:

  • 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia melewati Singapura, menurut infografis Calvin Cheng.
  • 80 persen kapasitas konektivitas Singapura terancam jika SKKL putus, menurut Meutya Hafid.
  • 267 juta penduduk Indonesia sudah terhubung ke internet, kata Meutya.
  • Penduduk Indonesia berjumlah 47 kali lipat penduduk Singapura.

Kami belum menemukan verifikasi independen atas angka-angka ini. Pembaca perlu membedakan klaim infografis dengan pernyataan menteri. Keduanya sama-sama menunjukkan satu hal: lalu lintas data kedua negara saling mengunci.

Meutya: Tak Perlu Geram, Singapura Tak Akan Putus Internet RI

Di tengah polemik yang ramai dibicarakan, Meutya memilih nada tenang dan menulis, "Kita tidak perlu geram." JawaPos.com melaporkan Meutya menegaskan bahwa Singapura tidak akan benar-benar memutus konektivitas internet Indonesia. Generasi menulis bahwa Meutya menekankan infrastruktur kabel laut kedua negara saling bergantung.

Radar Tuban melaporkan Meutya menyoroti keterkaitan infrastruktur kabel laut kedua negara. Gangguan pada jalur itu, menurutnya, memengaruhi konektivitas Indonesia dan Singapura.

Jalur Alternatif dan Kabel Nongsa–Changi

Pemerintah mengaku sedang menyiapkan cadangan jalur. Mediakompeten mencatat upaya mengembangkan jalur kabel bawah laut alternatif serta memperkuat jaringan kabel darat.

Indonesia dan Singapura juga memperkuat koneksi kabel laut. Informasi.com mencatat bahwa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengumumkan pendaratan kabel bawah laut Nongsa–Changi pada 20 Juli 2026. Kabel itu menghubungkan Batam dengan Singapura.

Cek Fakta: Apa yang Sudah dan Belum Jelas

Kami menelusuri beberapa laporan per Rabu (28/10/2026). Semua laporan itu sepakat soal inti pernyataan Meutya. Namun belum ada tanggapan resmi pemerintah Singapura dalam sumber yang kami temukan.

Status Calvin Cheng juga penting. Ia berstatus mantan anggota parlemen, bukan pejabat yang sedang menjabat, sehingga unggahannya tidak otomatis mewakili kebijakan Singapura. Perbedaan itu membantu pembaca menakar bobot polemik.

Buat pengguna sehari-hari, urusan kabel ini terasa jauh, padahal dekat. Belajar daring, transaksi perbankan, hingga pekerjaan berbasis cloud sama-sama bergantung pada jalur data yang stabil. Warga Papua Barat dan daerah lain ikut merasakan dampaknya jika konektivitas nasional terganggu.

Bagi pembaca awam, pelajarannya sederhana. Internet bukan awan abstrak, melainkan kabel fisik di dasar laut. Gangguan di satu titik bisa merambat ke banyak negara.

Polemik kabel laut Singapura ini menunjukkan satu hal: Indonesia dan Singapura saling membutuhkan. Meutya mengakui ketergantungan 90 persen, tetapi ia juga mengingatkan bahwa jalur kabel melintasi perairan Indonesia. Pemerintah kini mengejar jalur alternatif agar internet tetap kokoh. Publik tinggal menunggu apakah Singapura akan menanggapi secara resmi.