Harga cabai Teluk Bintuni melonjak tajam hingga Rabu, 14 Oktober 2026, dan membuat dapur warga ikut terasa pedas di kantong. Cabai kecil kini menyentuh Rp200 ribu per kilogram akibat kemarau panjang yang menekan pasokan petani.
Kabar kenaikan harga ini cepat menyebar di kalangan pembeli. Pada Rabu, 14 Oktober 2026, pedagang menjual cabai kecil seharga Rp200 ribu per kilogram. Cabai keriting mengikuti di angka Rp160 ribu per kilogram. Angka ini mencerminkan harga di tingkat pedagang, bukan harga acuan resmi pemerintah.
Bagi ibu rumah tangga, selisih harga tersebut terasa langsung di dapur. Sambal yang biasanya hadir tanpa banyak pikir kini harus dihitung ulang. Banyak warga mungkin mulai mengurangi takaran cabai demi menjaga uang belanja tetap aman.
Pasokan dari Kebar Mulai Seret
Iin, pedagang sayur-mayur di kawasan SP 5, sudah melihat tanda-tanda kenaikan ini sejak dua pekan lalu. Ia menyebut pasokan dari petani berkurang drastis. Sumber cabainya selama ini adalah Kebar, Kabupaten Manokwari.
Belakangan, cabai dari Kebar semakin sulit ia dapatkan. Iin pun menceritakan pengalamannya saat berburu stok.
“Saya biasa beli cabai dari Kebar, Manokwari. Katanya cabai lagi kosong, jadi harganya mahal,” kata Iin.
Hukum pasar bekerja sederhana di sini. Ketika barang langka, sementara pembeli tetap mencari, harga ikut terdongkrak. Pedagang pun terpaksa menjual lebih mahal, sebab harga beli dari pemasok kemungkinan besar ikut naik.
Cabai tergolong komoditas hortikultura yang mudah rusak dan sensitif terhadap cuaca. Pasokan yang terganggu sedikit saja bisa langsung mengubah harga. Itulah sebabnya cabai sering menjadi penyumbang utama kenaikan harga pangan di banyak daerah.
Kemarau Empat Bulan Menyulitkan Petani
Musim kemarau di Teluk Bintuni sudah berlangsung sekitar empat bulan. Kondisi ini diduga menjadi pemicu utama berkurangnya pasokan cabai. Dampaknya tidak berhenti pada harga bahan pangan saja.
Sejumlah petani kesulitan mendapatkan air untuk mengairi kebun mereka. Komoditas yang butuh banyak air paling merasakan akibatnya. Air yang terbatas berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman dan menekan hasil panen.
Hasil panen yang menyusut otomatis mengurangi sayuran yang masuk ke pasar. Rantai pasokan pun tersendat sejak dari kebun. Situasi inilah yang kini dirasakan pedagang dan pembeli di Teluk Bintuni.
Tomat dan Bawang Masih Relatif Stabil
Di tengah gejolak cabai, komoditas lain belum ikut melonjak. Tomat masih dijual pada kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Bawang merah dan bawang putih bertahan di rentang Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.
Kondisi ini menunjukkan tekanan harga terpusat pada cabai. Meski begitu, warga tetap perlu waspada. Jika kemarau terus berlanjut, komoditas lain berpotensi menyusul.
Beban Belanja Warga Ikut Membengkak
Cabai bukan sekadar bumbu bagi masyarakat setempat. Banyak keluarga menjadikannya pelengkap hampir setiap hidangan. Karena itu, kenaikan harga cabai cepat memukul anggaran belanja harian.
Pedagang dan pembeli kini sama-sama menunggu kabar pasokan. Jika kemarau berlanjut dan pasokan belum pulih, harga cabai dikhawatirkan tetap tinggi. Pengeluaran rumah tangga pun bakal terus bertambah.
Siasat Warga Menghadapi Harga Cabai Mahal
Warga sebenarnya punya beberapa siasat untuk menekan pengeluaran. Membeli cabai secukupnya sesuai kebutuhan masak beberapa hari bisa mengurangi pemborosan. Mengurangi takaran cabai pada menu harian juga membantu menjaga anggaran. Sebagian warga bisa mencoba menanam cabai dalam polybag di pekarangan.
Tentu saja, menanam cabai butuh air, sementara kemarau masih membandel. Karena itu, penyiraman perlu hemat dan teratur, misalnya pada pagi atau sore hari. Cara ini sekaligus mengurangi penguapan air di tanah.
Singkatnya, harga cabai Teluk Bintuni naik karena pasokan menipis akibat kemarau panjang. Cabai kecil menyentuh Rp200 ribu per kilogram, sedangkan tomat dan bawang masih stabil. Warga kini berharap hujan segera turun agar kebun kembali hidup dan harga kembali terjangkau. Data harga dalam artikel ini bersumber dari pedagang setempat per 14 Oktober 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu.