Karhutla Papua Selatan belum padam hingga Sabtu (31/10/2026), dengan 502 hektare lahan masih terbakar menurut data BNPB. Pantauan udara Kepala BNPB Kristomei Sianturi di Merauke menemukan indikasi pembukaan lahan dengan cara dibakar di sekitar konsesi sawit swasta.
Asap tebal terpantau dari helikopter Caracal milik TNI Angkatan Darat. Kristomei meninjau kondisi lapangan dari udara bersama pimpinan BMKG. Kepulan paling pekat muncul di sekitar lahan konsesi perkebunan kelapa sawit milik swasta. Dari pantauan itu, ia melihat beberapa lahan dibuka dengan cara dibakar, seperti dilaporkan JawaPos.com.
Karhutla Papua Selatan Tembus 502 Hektare
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, merinci situasi nasional dalam konferensi pers Jumat (30/10/2026). Total lahan yang masih terbakar mencapai 1.410 hektare di lima provinsi. Papua Selatan menempati posisi teratas dengan 502 hektare.
Sulawesi Tengah mengikuti dengan 295 hektare. Sulawesi Tenggara mencatat 257 hektare, Maluku 182 hektare, dan Kalimantan Timur 174 hektare. Pada Sabtu (31/10/2026), Berton menyebut pola karhutla kini sudah berubah sekali, sehingga fokus pemerintah bergeser ke kawasan timur Indonesia.
Angka ini bergerak cepat. IDN Times mencatat 161,5 hektare terbakar di Papua Selatan hingga Rabu (28/10/2026), tersebar di Merauke, Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Pembaca perlu memperhatikan tanggal rilis tiap data, karena setiap angka merujuk waktu pelaporan yang berbeda.
Gambaran jangka panjang jauh lebih besar. Data Kementerian Kehutanan, sebagaimana dikutip BBC Indonesia lewat Tempo, menunjukkan indikasi karhutla di Papua melampaui 30.000 hektare sepanjang 2026. Papua Selatan menyumbang porsi terbesar, yakni 25.838,53 hektare. Angka tahunan ini bersifat kumulatif, berbeda dengan luas lahan yang masih terbakar hari ini.
Indikasi Lahan Sengaja Dibakar di Konsesi Sawit
Kristomei menyebut pemantauan udara dan sistem digital selama tiga hari terakhir menunjukkan titik api dominan di wilayah konsesi tersebut. Okaba dan sejumlah wilayah lain di Kabupaten Merauke ikut memunculkan titik api. BNPB kini memanfaatkan drone untuk melihat posisi api sekaligus status penguasaan lahan.
Langkah itu membantu petugas memverifikasi setiap titik sebelum pemadaman darat dimulai. Meski begitu, kata indikasi perlu dibaca hati-hati. BNPB belum menyampaikan nama perusahaan, dan data yang terhimpun belum memuat keterangan aparat soal proses hukum.
Hujan Buatan dan Armada Udara Dikerahkan
BNPB menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Papua Selatan. Sepuluh sortie dengan 10.000 kilogram garam NaCl menurunkan titik api dari 295 menjadi 65, atau susut 78 persen. Hujan turun di Merauke bagian tengah dan utara, Boven Digoel selatan, serta Mappi selatan. IDN Times mengutip angka ini dari paparan BNPB.
Secara nasional, BNPB mengerahkan 58 armada udara. Sebanyak 23 unit bertugas patroli dan OMC, sedangkan 35 unit melakukan water bombing. Namun, Papua Selatan dan Papua Barat Daya hanya disiagakan masing-masing satu unit armada udara. Berton juga mengingatkan bahwa Papua Selatan sangat rawan terbakar dan menerima asap lintas batas dari Papua Nugini.
Warga Merauke Menanggung Asap dan Krisis Air
Di lapangan, warga yang merasakan dampaknya lebih dulu. Vincen, warga Merauke, menuturkan kepada BBC Indonesia bahwa karhutla musim kering memang berulang. Tahun ini, katanya, tutupan hutan makin menipis akibat operasional perusahaan, sehingga kebakaran terasa lebih parah dibanding periode sebelumnya.
Yonas dari Distrik Ilwayab, Merauke, mengeluhkan asap yang membuat sesak napas. Warga juga kesulitan air dan harus menempuh jarak hingga delapan kilometer demi air bersih. Ia turut mempertanyakan upaya pemadaman yang dilakukan pemerintah untuk mencegah api meluas.
Dampak asap juga terasa sampai Papua Barat. Kepala BMKG Manokwari, Cipta Utama, menyebut sempat terpantau 201 titik api di Papua Barat. Meski begitu, asap di sana kini merupakan efek dari Papua Selatan. Pernyataan ini muncul dalam laporan BBC Indonesia yang terbit lebih dulu bulan ini.
Angka Kunci Karhutla Papua Selatan per 31 Oktober 2026
- 502 hektare lahan masih terbakar di Papua Selatan menurut BNPB (30/10).
- 1.410 hektare total lahan terbakar di lima provinsi.
- 161,5 hektare tercatat hingga 28 Oktober di empat kabupaten.
- Titik api turun 78 persen, dari 295 menjadi 65, setelah OMC.
- 58 armada udara nasional, hanya satu unit disiagakan di Papua Selatan.
- Lebih dari 30.000 hektare indikasi karhutla Papua sepanjang 2026 menurut Kemenhut.
Kesimpulannya, api di Papua Selatan belum sepenuhnya padam, dan dugaan pembakaran sengaja masih berstatus indikasi yang perlu diverifikasi. Hujan buatan memang menekan titik api, tetapi armada terbatas dan musim kering membuat kewaspadaan tetap harus tinggi. Warga Merauke menunggu kepastian: siapa yang membakar, dan kapan udara bersih kembali.
Sumber rujukan Data diperbarui 31 Oktober 2026.